Tag Archive for: SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera)

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Medical Molecular Morphology pada 26 Maret 2026 melaporkan hasil kajian mengenai perubahan ekspresi protein Klotho pada ginjal tikus yang terpapar Trimethyltin (TMT). Studi ini dilakukan oleh tim peneliti dengan anggota  Devi Purnamasari Sasongko, Dian Eurike Septyaningtrias dan Rina Susilowati, dengan tujuan untuk mengeksplorasi dampak sistemik TMT, yang kerap ditemukan pada industri sebagai bahan aditif pembuatan bahan plastik serta katalis pembuatan poliuretan dan silikon. Dalam kadar tertentu, senyawa organotin ini juga digunakan sebagai pengawet kayu, cat mencegah lumut, dan pengontrol hama. Di laboratorium biomedis, TMT lebih dikenal sebagai agen model degenerasi saraf sehingga digunakan untuk membuat model hewan degenerasi otak. 

Dalam penelitian eksperimental ini, sepuluh ekor tikus jantan galur Sprague–Dawley dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok yang mendapatkan paparan TMT dosis tunggal. Setelah 28 hari, dilakukan evaluasi terhadap fungsi ginjal, perubahan jaringan, serta ekspresi penanda inflamasi dan protein terkait proteksi seluler.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi ginjal tetap berada dalam kondisi stabil, ditandai dengan tidak adanya perbedaan signifikan kadar urea dan kreatinin antara kedua kelompok. Namun demikian, pemeriksaan histologis mengungkap adanya perubahan ringan berupa infiltrasi sel inflamasi dan ekspansi mesangial pada ginjal tikus yang terpapar TMT. Selain itu, terjadi peningkatan ekspresi TNF-α pada tubulus distal, yang mengindikasikan adanya respon inflamasi.

Menariknya, studi ini juga menemukan peningkatan ekspresi protein Klotho pada bagian tubulus ginjal, meskipun tidak disertai perubahan pada tingkat mRNA Klotho maupun Nrf2. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya mekanisme regulasi pasca-transkripsi dalam respon sel terhadap paparan toksik.

Menanggapi temuan tersebut, Devi Purnamasari Sasongko yang juga merupakan alumni S2 Magister Ilmu Biomedis minat Histologi dan Biologi Sel dan kini dosen di Universitas Negeri Surabaya menyampaikan bahwa hasil ini memberikan gambaran awal mengenai respon biologis ginjal terhadap stres akibat paparan zat toksik.

“Temuan ini menunjukkan adanya respon seluler yang kompleks pada ginjal, khususnya terkait ekspresi Klotho. Meskipun fungsi ginjal tidak terganggu secara signifikan dengan paparan tunggal Trimethyltin, perubahan pada tingkat jaringan dan protein tetap perlu menjadi perhatian untuk penelitian lanjutan,” ujarnya.

Secara keseluruhan, penelitian ini menambah wawasan dalam bidang biomedis terkait efek sistemik Trimethyltin dan membuka peluang untuk eksplorasi lebih lanjut mengenai peran Klotho dalam respon ginjal terhadap stres lingkungan dan toksikologi.Penelitian ini memiliki keterkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui kontribusinya dalam memahami mekanisme proteksi ginjal terhadap paparan toksin yang berpotensi mendukung pengembangan terapi penyakit ginjal. Penelitian ini juga merupakan hasil pemikiran dalam masa pendidikan penulis yang dapat berguna sebagai bahan pembelajaran bagi akademisi lain, yang turut mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Adanya kerjasama antara kedua afiliasi dalam penelitian ini mendukung SDG 17 (Kemitraan dalam Mencapai Tujuan). Selain itu, studi ini juga mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) karena menghadirkan inovasi di bidang biomedis melalui eksplorasi regulasi protein Klotho sebagai target potensial terapi. Di sisi lain, kajian mengenai dampak Trimethyltin turut berkontribusi pada SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan meningkatkan kesadaran terhadap penggunaan bahan kimia dan implikasinya terhadap kesehatan, sehingga mendorong praktik yang lebih aman dan berkelanjutan. (Kontributor: Rina Susilowati)
Link Artikel: https://doi.org/10.1007/s00795-026-00458-2

Dua dosen dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam ajang International Young Talents Exchange Program yang berlangsung di Shanghai, Tiongkok, pada 9-12 Maret 2026. Sebanyak delapan orang terpilih mengikuti program ini, yang terdiri dari lima peserta asal Vietnam dan tiga peserta asal Indonesia. Adapun perwakilan Indonesia tersebut meliputi satu orang dari Kementerian Kesehatan serta dua akademisi UGM, yaitu Nur Aziz (Dosen Departemen Histologi dan Biologi Sel) dan Moh. Hendra Setya Lesmana (Dosen Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas).

Selama empat hari, rangkaian acara difokuskan pada visitasi ke berbagai pusat unggulan riset dan teknologi di Shanghai. Para peserta mengunjungi Single Cell Omics Center di Shanghai Jiao Tong University untuk mempelajari analisis sel tunggal, serta melakukan peninjauan ke Shanghai Biobank dan perusahaan Origincell. Kunjungan juga dilakukan ke Shanghai Pulmonary Hospital untuk mendalami penanganan penyakit paru dan fasilitas baik rumah sakit maupun laboratorium penelitiannya. Selain visitasi lapangan, para perwakilan ini melakukan diskusi intensif terkait peluang kolaborasi penelitian internasional.

Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui penjajakan riset di bidang omics dan biobank, keterlibatan dosen UGM berkontribusi pada pengembangan pengobatan presisi yang krusial bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan. Di sisi lain, kolaborasi antara perwakilan Indonesia, Vietnam, dan Tiongkok ini mencerminkan semangat kemitraan global dalam berbagi pengetahuan dan teknologi untuk mengakselerasi pencapaian target pembangunan berkelanjutan di sektor kesehatan. (Kontributor: Nur Aziz)

NPC Strip G adalah alat deteksi dini kanker nasofaring (KNF). Kanker nasofaring merupakan salah satu keganasan di area kepala dan leher. Kanker nasofaring berkembang di epitel nasofaring, yaitu di belakang hidung dan tenggorokan. Karena letaknya yang tersembunyi dan ukuran tumor primernya kecil, maka sebagian pasien KNF terdiagnosis pada stadium lanjut, pada saat sudah ada benjolan di leher.  Pada stadium lanjut pengobatan KNF memerlukan kombinasi radio- dan kemoterapi, dengan keberhasilan rendah, efek samping yang berat dan tentu saja biaya yang besar. Padahal jika terdiagnosis pada stadium dini, pengobatan dapat dilakukan dengan radioterapi saja, dengan tingkat keberhasilan tinggi, efek samping yang relative ringan dan biaya yang lebih murah. Akan tetapi, KNF stadium dini tidak mempunyai gejala yang spesifik, seperti pilek berkepanjangan, sakit kepala terus menerus, kadang telinga berdenging, dan lain-lain. Oleh karena itu, biasanya pasien tidak mengetahui jika itu gejala penyakit yang serius, bahkan dokter di pusat layanan kesehatan primer kadang juga tidak menyadari bahwa itu gejala dari KNF stadium awal. 

Kanker nasofaring khususnya di daerah endemik, termasuk Indonesia, biasanya (>90%) adalah tipe tidak terkeratinisasi yang kejadiannya berkaitan dengan infeksi virus Epstein-Barr (EBV). Penderita KNF dan individu berisiko tinggi KNF mempunyai antibodi (IgG dan IgA) terhadap protein EBV. Oleh karena itu, antibodi IgG- dan/atau IgA-EBV merupakan marker untuk deteksi KNF maupun risiko terkena KNF.

NPC Strip G merupakan hasil penelitian dari Staf Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM. NPC Strip G mendeteksi antibodi IgG-EBV di dalam darah, plasma darah atau serum pasien KNF atau individu berisiko KNF dengan menggunakan metode imunokromatografi atau yang lebih dikenal dengan lateral flow assay (LFA). Prinsip pemeriksaan dengan alat ini mirip dengan alat tes kehamilan, bedanya pada tes kehamilan yang diuji adalah urin, sedangkan pada NPC Strip G yang uji darah dari ujung jari atau plasma darah atau serum.

Dalam rangka Dies Natalis ke-80 dengan tema “Mencerdaskan dan Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, FK-KMK mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dan Pameran Alat Kesehatan yang merupakan hasil penelitian dan inovasi peneliti-peneliti di UGM, yang diadakan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) pada hari Jumat dan Sabtu, 6-7 Februari 2026. NPC Strip G berkesempatan turut serta menjadi salah satu peserta pameran di acara tersebut. Selain ikut serta dalam pameran, inventor alat tersebut, yaitu Dewi Kartikawati Paramita, S.Si., M.Si., Ph.D menjadi salah satu narasumber dalam acara FGD dengan tema “Penguatan Kemitraan Perguruan Tinggi-Industri untuk Menciptakan Inovasi Berdampak di Bidang Alat Kesehatan”. Dalam FGD tersebut disampaikan berbagai pengalaman terkait pengembangan NPC Strip G, meliputi perjalanan inovasi riset sejak awal hingga menjadi prototipe, uji klinis dan siap hilirisasi. Yang juga sangat penting adalah tantangan yang dihadapi inventor dalam menjembatani standar akademik dan kebutuhan industri (SDG 9: Industry, innovation and infrastructure). Keikutsertaan NPC Strip G dalam acara Medical Device Expo tersebut diharapkan dapat mendiseminasi inovasi alat kesehatan dari akademisi, industri, dan mitra strategis. Dengan demikian, diharapkan mitra strategis dalam hal ini Rumah Sakit atau Pusat Layanan Primer dapat memanfaatkan alat tersebut, sehingga dapat membantu mengatasi masalah kesehatan nasional , dengan menurunkan angka kesakitan bagi pasien (SDG 3: Good Health and Wellbeing) dan beban pembiayaan negara.

Usia dan kondisi kesehatan rupanya bukan menjadi penghalang bagi Bapak Teguh Sugiharto untuk terus menebar kebaikan. Staf Tenaga Kependidikan (Tendik) dari Departemen Histologi dan Biologi Sel, FK-KMK UGM ini kembali menunjukkan dedikasinya melalui aksi kemanusiaan donor darah di Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) RSUP Dr. Sardjito pada 9 Februari 2026. Meski saat ini beliau tengah berada di masa mendekati purna tugas, semangatnya untuk membantu sesama melalui tetesan darah tidak pernah surut.

Pelaksanaan donor kali ini terasa sangat istimewa karena Bapak Teguh tetap melangkah maju meski memiliki riwayat kesehatan yang cukup menantang, mulai dari tekanan darah tinggi dan pengalaman kencing batu yang sempat dideritanya. Melalui pertimbangan medis yang matang dan pemantauan kondisi fisik secara saksama, proses donor yang ke-36 kalinya ini berjalan dengan lancar. Pasca-donor, beliau mengaku merasa lebih bugar dan tidak merasakan gangguan kesehatan yang berarti, membuktikan bahwa niat tulus yang dibarengi pengawasan medis mampu membuahkan hasil positif.

Kegiatan rutin yang dilakukan oleh Bapak Teguh Sugiharto ini merupakan perwujudan nyata dari poin SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Aksi donor darah secara konsisten berkontribusi langsung pada penguatan sistem kesehatan masyarakat melalui penyediaan stok darah yang aman bagi yang membutuhkan. Selain itu, dedikasi beliau di usia senior juga mencerminkan upaya promosi kesehatan mental dan kesejahteraan individu, di mana semangat berbagi tetap terjaga hingga masa purna bakti, memberikan inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk tetap berkontribusi pada kemanusiaan dalam kondisi apa pun. (Kontributor : Teguh Sugiharto)

Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM kembali mengantarkan  seorang mahasiswa lulus ujian Disertasi S3 Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan melalui ujian disertasi yang diselenggarakan pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 12.30–15.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Ujian Prodi S3, Gedung Pascasarjana Tahir Sayap Utara Lantai 3, dan dipimpin oleh Prof. Marsetyawan.

Mahasiswa yang dinyatakan lulus adalah dr. Teresa Lucretia, dosen Departemen Histologi  Universitas Kristen Maranatha Bandung, yang berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Dampak Progresi Diabetes terhadap Lien Tikus: Kajian Stereologi, Histopatologi, Flow Cytometry dan Ekspresi Ligan Kemokin.”

Dalam penelitiannya, dr. Teresa mengkaji dampak diabetes melitus terhadap lien atau dalam bahasa awam disebut sebagai limpa,  organ penting dalam sistem kekebalan tubuh. Diabetes diketahui tidak hanya mempengaruhi kadar gula darah, tetapi juga dapat melemahkan daya tahan tubuh. Melalui penelitian ini, ditunjukkan bahwa perjalanan diabetes dapat menyebabkan perubahan bertahap pada struktur dan fungsi organ imun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase awal diabetes, limpa masih mempertahankan ukuran normal secara makroskopis, namun telah terjadi aktivasi imun adaptif, ditandai dengan peningkatan aktivitas pulpa alba, infiltrasi sel inflamasi, peningkatan jumlah limfosit T dan B, serta peningkatan ekspresi gen ligan kemokin CCL19. Temuan ini mengindikasikan bahwa pada tahap awal, limpa masih berperan aktif dalam merespons kondisi hiperglikemia dan stres oksidatif sistemik.

Sebaliknya, pada fase lanjut diabetes, ditemukan involusi struktural dan fungsional lien, ditandai dengan ukuran organ yang lebih kecil, penurunan volume pulpa alba dan zona marginalis, peningkatan fraksi jaringan ikat, serta tidak ditemukannya peningkatan jumlah limfosit T dan B. Kondisi ini mencerminkan terjadinya kelelahan imun (immune exhaustion) dan penurunan kapasitas respon imun adaptif pada diabetes kronis. Pola ekspresi ligan kemokin yang tidak seimbang pada fase lanjut juga mengindikasikan adanya gangguan regulasi migrasi sel imun.

Penelitian ini menggunakan berbagai pendekatan ilmiah, antara lain pemeriksaan jaringan secara mikroskopis dengan analisis kualitatif, semi kuantitatif dan stereologi, penghitungan sel imun dengan teknologi flow cytometry, serta analisis ekspresi gen menggunakan qRT-PCR. Kombinasi metode tersebut memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai perubahan organ imun akibat diabetes.

Selama studi doktoralnya, dr. Teresa Lucretia dibimbing oleh dr. Rina Susilowati, Ph.D. dan Dewi Kartikawati Paramita, S.Si., M.Si., Ph.D. Ujian disertasi ini juga melibatkan tim penguji yang terdiri dari para pakar di bidangnya yaitu dr. Arta Farmawati, Ph.D., Dr. dr. Umi S. Intansari, M.Kes., Sp.PK(K), dr. Vina Yanti Susanti, Sp.PD-KEMD, M.Sc., Ph.D., dr. Widya Wasityastuti, M.Sc., M.Med.Ed., Ph.D. dan dr. Hana Ratnawati, M.Kes., PA(K)

Dewan penguji memberikan apresiasi atas kedalaman analisis, integrasi pendekatan morfologis, imunologis, dan molekuler, serta kontribusi ilmiah penelitian ini dalam memahami dampak diabetes terhadap sistem imun.

Berdasarkan hasil sidang, dr. Teresa Lucretia dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar Doktor. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengendalian diabetes sejak dini, tidak hanya untuk mencegah komplikasi organ, tetapi juga untuk menjaga kekuatan sistem kekebalan tubuh.Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM mengucapkan selamat dan sukses kepada dr. Teresa Lucretia atas capaian akademik yang diraih, serta berharap hasil penelitiannya dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan menjadi pijakan awal penelitian selanjutnya. Selamat mempersiapkan wisuda di bulan April 2026.

Penelitian serta capaian akademik dr. Teresa Lucretia secara strategis mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui fokus pada pengendalian diabetes dan penguatan sistem imun, kontribusinya selaras dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pencapaian ini juga mencerminkan implementasi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui dedikasi pada pendidikan doktoral dan standarisasi riset ilmiah yang bermutu. Dalam aspek teknis, pemanfaatan inovasi serta teknologi riset biomedik yang ia terapkan sejalan dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Selain itu, kolaborasi lintas institusi dan multidisiplin yang dilakukan menjadi langkah nyata dalam pemenuhan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) guna mendorong kemajuan ilmu pengetahuan secara kolektif. (Kontributor: Rina Susilowati)

Mengawali langkah di tahun 2026, Departemen Histologi dan Biologi Sel kembali menggelar kegiatan kerja bakti pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang konsisten dilaksanakan setiap awal dan pertengahan tahun untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana departemen.

Sejak pagi hari, suasana gotong royong tampak kental saat seluruh elemen departemen, baik staf dosen maupun tenaga kependidikan, bahu-membahu membersihkan dan menata ulang fasilitas. Kegiatan kerja bakti meliputi pembersihan dan penataan area ruang pengajaran serta area laboratorium guna menyambut semester baru.

Selain untuk menjaga kualitas fasilitas, momen ini menjadi sarana mempererat kekompakan antarstaf di luar rutinitas akademik. Semangat kebersamaan tersebut semakin terasa saat seluruh peserta menutup kegiatan dengan acara makan siang bersama yang penuh kehangatan.

Kegiatan kerja bakti ini merupakan wujud nyata komitmen departemen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Aksi ini secara langsung mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menciptakan lingkungan kerja yang higienis dan nyaman. Selain itu, kolaborasi ini selaras dengan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), di mana sinergi antara dosen dan tenaga kependidikan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kualitas layanan institusi. (Kontributor: Nur Aziz)

Departemen Histologi dan Biologi Sel kembali menorehkan prestasi akademik melalui publikasi artikel ilmiah berjudul “Stereological analysis of spleen alterations in streptozotocin–nicotinamide-induced diabetic rats”, yang terbit online ahead of print pada 8 Desember 2025 di jurnal internasional bereputasi Biotechnique & Histochemistry (https://doi.org/10.1080/10520295.2025.2587290)

Publikasi ini merupakan hasil kolaborasi penelitian dengan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, sekaligus menjadi bagian dari disertasi mahasiswa S3 Teresa Lucretia, dengan pembimbing Rina Susilowati dan Dewi Kartikawati Paramita.

Penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana progresi diabetes mempengaruhi struktur dan fungsi limpa — organ kunci dalam sistem imun. Dengan pendekatan stereologi berbasis desain dan flowcytometry, tim menilai perubahan histopatologi limpa pada dua fase perkembangan diabetes: minggu ke-5 dan ke-10 setelah induksi streptozotocin–nikotinamida.

Temuan utama penelitian:

  • Pada tahap awal (minggu ke-5), model diabetes menunjukkan respon inflamasi aktif tanpa tanda pengecilan limpa yang bermakna; terjadi peningkatan limfosit dan migrasi limfosit yang mencerminkan aktivasi respon imun adaptif.

  • Pada tahap lanjut (minggu ke-10), terjadi pengecilan limpa signifikan – terutama pada volume pulpa alba – yang proporsional dengan berat badan, menggambarkan dampak sistemik diabetes kronis. Volume yang lebih kecil terutama pada jaringan limfoid pulpa alba mengisyaratkan adanya kelelahan sistem imun adaptif yang tidak lagi responsif terhadap kerusakan jaringan.

Komentar dari Teresa Lucretia (mahasiswa S3):

“Kami sangat bersyukur penelitian ini dapat dipublikasikan. Dengan menelusuri perubahan limpa pada fase awal dan lanjut diabetes, kami berharap hasil ini dapat mendorong perhatian lebih terhadap aspek imunologis dalam manajemen penyakit diabetes. Semoga ke depan dapat dikembangkan strategi pencegahan dan terapi yang lebih holistik, sehingga pada akhirnya dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien.”

Departemen Histologi dan Biologi Sel mengapresiasi dedikasi seluruh tim peneliti dan berharap kolaborasi riset dengan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung terus berlanjut dalam penguatan ilmu biologi sel dan imunologi.

Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Penelitian ini selaras dengan upaya pencapaian SDG 3 — Good Health and Well-being, khususnya dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan mengenai penyakit kronis metabolik seperti diabetes. Selain itu, penelitian ini juga berkontribusi pada SDG 17 — Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antar lembaga penelitian dan pemanfaatan jejaring kerja sama untuk memperkuat kapasitas riset dan dampak kebermanfaatan hasil penelitian.

#SDG #SDG3 #GoodHealthAndWellbeing #KesehatanYangBaikDanKesejahteraan #SDG17 #PartnershipsForTheGoals #KemitraanUntukMencapaiTujuan

Satrio Adi Wicaksono, seorang staf dosen muda dari Departemen Histologi dan Biologi Sel FKKMK UGM, yang saat ini menempuh studi doktoral di Kobe University, Jepang, berhasil menerbitkan artikel penelitian inovatif di jurnal internasional Communications Biology. Penelitian ini menyoroti peran aktif senesensi endotheliocytus (endothelial cells; EC) sebagai regulator awal penuaan kulit melalui mekanisme neuroimun yang sebelumnya belum dipahami.

Penuaan biasanya disertai dengan disfungsi vaskular progresif, tetapi dampaknya pada penuaan kulit masih kurang dipahami. Penelitian ini menunjukkan bahwa endotheliocytus yang mengalami senesensi berkontribusi pada penuaan kulit intrinsik melalui aktivasi mastocytus (mast cells) yang dipicu oleh peptida neurokalkitonin (CGRP), terlepas dari jalur IgE tradisional. Temuan ini membuka jalan untuk pengembangan strategi terapeutik baru yang menargetkan senesensi vaskular dan interaksi neuroimun untuk memperlambat penuaan kulit.

Meskipun senesensi EC diketahui terlibat dalam berbagai penyakit terkait usia, perannya pada penuaan dermal belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana EC senescent mempengaruhi kulit melalui jalur neuroimun, menggunakan model tikus dengan senesensi EC spesifik.

Peneliti menggunakan model tikus yang endotheliocytus-nya mengalami senesensi secara spesifik. Analisis dilakukan terhadap aktivasi mastocytus, sekresi faktor pro-inflamasi senescence-associated secretory phenotype (SASP), dan produksi CGRP oleh axon yang ada di dermis. Intervensi farmakologis dilakukan untuk menstabilkan mastocytus atau menghambat jalur EC-SASP-CGRP, untuk menilai efeknya terhadap penuaan kulit.

Hasil Utama

  • endotheliocytus yang mengalami senesensi menghasilkan SASP pro-inflamasi, yang mengaktifkan neuron dermal untuk memproduksi CGRP.

  • CGRP kemudian memicu degranulasi mastocytus, menyebabkan fenotipe penuaan kulit seperti penipisan dermis, degradasi kolagen, dan penyembuhan luka yang tertunda.

  • Penghambatan jalur EC-SASP-CGRP atau stabilisasi mastocytus secara farmakologis secara signifikan mengurangi tanda-tanda penuaan kulit.

“Kami menemukan bahwa senesensi vaskular bukan hanya masalah pembuluh darah, tetapi juga memicu penuaan kulit melalui interaksi neuroimun yang kompleks,” ujar Satrio. “Hasil ini membuka kemungkinan pengembangan terapi baru untuk memperlambat penuaan kulit.”

Temuan ini menunjukkan bahwa senesensi vaskular adalah regulator awal penuaan kulit, dan jalur EC-SASP-CGRP bisa menjadi target terapeutik potensial. Penelitian lanjutan akan fokus pada pengembangan intervensi farmakologis dan studi kolaboratif internasional untuk aplikasi klinis.

Artikel lengkap tersedia di: Communications Biology

Departemen Histologi & Biologi Sel FKKMK UGM terus mendorong staf muda untuk terlibat dalam penelitian internasional berkualitas tinggi, mendukung pengembangan ilmu dan kolaborasi global. Publikasi ilmiah seperti penelitian ini juga berkontribusi langsung pada implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui inovasi kesehatan, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas akademik, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat pemajuan riset biomedis.

Dalam rangka meningkatkan kesehatan pegawai sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), tenaga kependidikan (tendik) Departemen Histologi dan Biologi Sel, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM merutinkan kegiatan bersepeda pada setiap Jumat Krida pukul 07.00 – 09.00. Aktivitas ini menjadi wujud komitmen departemen untuk mempromosikan gaya hidup aktif serta mendorong terciptanya lingkungan kampus yang sehat dan berkelanjutan.

Bersepeda merupakan aktivitas yang efektif dalam menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan kesehatan jantung, dan mengurangi risiko penyakit tidak menular. Melalui kegiatan Jumat Krida, tendik Departemen Histologi dan Biologi Sel diajak untuk sejenak mengambil jeda dari rutinitas pekerjaan guna melakukan aktivitas fisik yang teratur.

Selain meningkatkan kesehatan pegawai, bersepeda juga mendukung upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih bersih dan rendah emisi. Pemilihan sepeda dibandingkan kendaraan bermotor, menunjukkan tendik berkontribusi pada pengurangan polusi udara dan kebisingan di area UGM. Penggunaan sepeda secara rutin juga akan membantu menurunkan jejak karbon individu. Aktivitas ini juga memperkuat relasi sosial, karena menjadi ruang bagi pegawai untuk saling berinteraksi, mempererat kebersamaan, sekaligus membangun budaya kerja yang lebih harmonis, termasuk melalui kegiatan bersepeda bersama tendik Departemen Anatomi. Rute bersepeda yang melintasi kawasan kampus dan sekitarnya menjadi ruang bagi pegawai untuk beraktivitas dalam suasana yang menyenangkan dan produktif.

Sebagai institusi pendidikan yang mengedepankan nilai keberlanjutan, UGM terus mendorong unit-unit di dalamnya untuk mengimplementasikan SDGs secara nyata. Program rutin bersepeda oleh tendik Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK merupakan contoh konkret bagaimana aktivitas sederhana dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup. Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan pegawai lewat aktivitas fisik rutin; mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dengan berkontribusi pada terciptanya lingkungan kampus yang bersih, aman, dan nyaman; serta turut merealisasikan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya nyata pengurangan emisi karbon dengan memilih moda transportasi ramah lingkungan.

Dengan keberlanjutan kegiatan ini, diharapkan semakin banyak sivitas akademika UGM yang terinspirasi untuk menjadikan aktivitas fisik dan gaya hidup ramah lingkungan sebagai bagian dari keseharian. Upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa manfaat besar bagi individu, institusi, dan bumi yang kita tinggali.

Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan rekreasi pada Rabu, 26 November 2025 dengan rangkaian kunjungan ke Nawang Jagad, Museum Ulen Sentalu, Museum Gunung Merapi, dan Jejamuran sebagai sarana untuk memperkuat hubungan dan kebersamaan antarstaf. Kegiatan rekreasi ini tidak hanya sebagai momen penyegaran dari rutinitas pekerjaan, tetapi juga ruang interaksi yang bermakna untuk saling mengenal dan memperat hubungan dengan seluruh staf.

Kunjungan ke Nawang Jagad memberikan suasana alam yang kondusif untuk membangun kedekatan antarstaf melalui aktivitas bersama. Interaksi yang terbangun antara dosen dan tenaga kependidikan dalam suasana rekreatif diharapkan dapat memperkuat terciptanya hubungan kerja yang lebih harmonis di lingkungan departemen. Di Museum Ulen Sentalu, kami mengikuti Tur Adiluhung Mataram untuk memperoleh pengalaman budaya melalui penelusuran jejak sejarah, seni, dan tradisi Mataram. Kami menjadi lebih mengenal koleksi lukisan, syair, foto, dan batik yang menceritakan sejarah serta budaya Mataram. Sementara itu, Museum Gunung Merapi juga menjadi salah satu destinasi kunjungan dalam rangkaian perjalanan sebagai sarana memperluas pengetahuan tentang daerah dan lingkungan sekitar.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Jejamuran, diawali dengan acara makan bersama yang hangat bagi seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berkeliling melihat secara langsung proses budidaya jamur, mulai dari persiapan media tanam hingga panen. Selanjutnya, diadakan kelas memasak yang memanfaatkan jamur sebagai bahan utama, memberikan kesempatan bagi kami untuk mempelajari cara mengolah jamur menjadi beragam hidangan yang lezat dan bergizi. Lomba memasak juga diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan, di mana staf dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyiapkan menu yang sama secara kreatif dan kolaboratif. Aktivitas ini tidak hanya menghadirkan suasana yang seru dan menyenangkan, tetapi juga menjadi ruang interaksi yang positif, sekaligus memperkuat kerja sama, komunikasi, dan kebersamaan antarstaf.

Seluruh rangkaian rekreasi ini tidak hanya menjadi wadah penyegaran dan penguatan kebersamaan internal, tetapi bersifat edukatif serta sebagai bentuk implementasi nilai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan sumber daya manusia, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran budaya dan sejarah sebagai bentuk pelestarian pengetahuan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui praktik edukatif mengenai budidaya dan pemanfaatan bahan pangan lokal secara berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi di lingkungan Departemen Histologi dan Biologi Sel serta mendukung terciptanya lingkungan kerja yang harmonis, produktif, dan berkelanjutan.