Kamera mikroskop merupakan perangkat tambahan yang dipasang pada lensa okuler mikroskop cahaya untuk menangkap gambar atau video dari sediaan histologi yang diamati. Hasil tangkapan kemudian diproses dengan perangkat lunak dan dapat langsung ditampilkan pada layar komputer atau monitor besar. Perangkat ini memudahkan dokumentasi gambar dari sediaan histologi yang diamati.

Laboratorium Histologi di Departemen Histologi dan Biologi Sel telah memiliki tiga kamera mikroskop yang masing-masing terpasang di tiga mikroskop yang berbeda. Ketiganya aktif digunakan baik oleh dosen maupun mahasiswa untuk mendukung pendidikan dan penelitian. Di bidang pendidikan, kamera mikroskop tersebut digunakan untuk mendokumentasikan gambar sediaan histologi yang digunakan sebagai sumber pembelajaran praktikum mahasiswa S1 Kedokteran FK-KMK UGM di tahun pertama. Kamera mikroskop tersebut juga digunakan oleh mahasiswa S2 Magister Ilmu Biomedik (MIB) FK-KMK UGM untuk pengamatan dan sekaligus diskusi sediaan histologi secara langsung pada saat praktikum mata kuliah mikroteknik.

Selain itu, kamera mikroskop di Laboratorium Histologi juga mendukung penelitian untuk tugas akhir mahasiswa. Seorang mahasiswi Program Studi Doktor angkatan tahun 2022 di FK-KMK, Lutfi Nurdian Asnindari, menyatakan rela mengantre untuk menggunakan kamera mikroskop di Laboratorium Histologi karena kualitas gambar yang dihasilkan sesuai dan memadai untuk dilakukan analisis lanjutan. Dua mahasiswi lain dari Magister Ilmu Biomedik FK-KMK angkatan 2024 minat Histologi dan Biologi Sel, yaitu Destiatpin Sofyaningrum dan Merry Nikita Br Nainggolan, mengandalkan kamera mikroskop di Laboratorium Histologi untuk pengumpulan data dengan jumlah yang relatif banyak untuk dilakukan analisis dengan pendekatan stereologi. 

Kemudahan pengoperasian dengan hasil gambar yang memuaskan menjadikan kamera mikroskop di Laboratorium Histologi sebagai fasilitas krusial dalam pelaksanaan pendidikan dan penelitian yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan Nomor 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan sarana belajar yang mumpuni, serta Tujuan Nomor 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan riset ilmiah dan pemutakhiran teknologi laboratorium. Ke depannya, pembaruan teknologi kamera mikroskop serta perangkat lunak secara berkala menjadi langkah penting untuk terus meningkatkan kualitas visualisasi dan akurasi data. (Kontributor: Saihas Suhda)

Departemen Histologi dan Biologi Sel sukses menyelenggarakan “Rapat Kerja Awal Tahun 2026” pada 26 Januari 2026. Pertemuan strategis ini dihadiri oleh seluruh elemen departemen, mulai dari jajaran staf dosen hingga tenaga kependidikan.

Acara diawali dengan laporan dr. Rina Susilowati, Ph.D., yang memaparkan capaian tahun lalu. Terungkap bahwa seluruh target kinerja departemen tahun 2025 terpenuhi 100%. Prestasi ini merupakan buah dari dedikasi kolektif seluruh staf Departemen Histologi dan Biologi Sel.

Ketua Departemen periode 2026-2031, Dra. Dewajani Purnomosari, M.Si., Ph.D., kemudian memaparkan proyeksi target satu tahun ke depan. Beliau menekankan bahwa pencapaian target bukan sekadar pemenuhan indikator administratif, melainkan tanggung jawab moral untuk memajukan institusi. Beliau mengajak seluruh staf untuk berinovasi melampaui batas target formal demi kontribusi nyata pada ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Melalui sinergi ini, departemen menegaskan komitmen mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Rapat kerja ini merupakan kegiatan yang sejalan dengan prinsip SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penjaminan mutu akademik, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi internal demi ekosistem kerja yang inklusif.

Pertemuan ditutup dengan penuh kehangatan melalui sebuah pantun:

Pagi hari sarapan roti, Kopi hangat teman bekerja. Awal tahun satukan hati, Kerja sama kunci sukses bersama.

(Kontributor: Nur Aziz)

Mengawali langkah di tahun 2026, Departemen Histologi dan Biologi Sel kembali menggelar kegiatan kerja bakti pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang konsisten dilaksanakan setiap awal dan pertengahan tahun untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana departemen.

Sejak pagi hari, suasana gotong royong tampak kental saat seluruh elemen departemen, baik staf dosen maupun tenaga kependidikan, bahu-membahu membersihkan dan menata ulang fasilitas. Kegiatan kerja bakti meliputi pembersihan dan penataan area ruang pengajaran serta area laboratorium guna menyambut semester baru.

Selain untuk menjaga kualitas fasilitas, momen ini menjadi sarana mempererat kekompakan antarstaf di luar rutinitas akademik. Semangat kebersamaan tersebut semakin terasa saat seluruh peserta menutup kegiatan dengan acara makan siang bersama yang penuh kehangatan.

Kegiatan kerja bakti ini merupakan wujud nyata komitmen departemen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Aksi ini secara langsung mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menciptakan lingkungan kerja yang higienis dan nyaman. Selain itu, kolaborasi ini selaras dengan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), di mana sinergi antara dosen dan tenaga kependidikan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kualitas layanan institusi. (Kontributor: Nur Aziz)

Departemen Histologi dan Biologi Sel kembali menorehkan prestasi akademik melalui publikasi artikel ilmiah berjudul “Stereological analysis of spleen alterations in streptozotocin–nicotinamide-induced diabetic rats”, yang terbit online ahead of print pada 8 Desember 2025 di jurnal internasional bereputasi Biotechnique & Histochemistry (https://doi.org/10.1080/10520295.2025.2587290)

Publikasi ini merupakan hasil kolaborasi penelitian dengan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, sekaligus menjadi bagian dari disertasi mahasiswa S3 Teresa Lucretia, dengan pembimbing Rina Susilowati dan Dewi Kartikawati Paramita.

Penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana progresi diabetes mempengaruhi struktur dan fungsi limpa — organ kunci dalam sistem imun. Dengan pendekatan stereologi berbasis desain dan flowcytometry, tim menilai perubahan histopatologi limpa pada dua fase perkembangan diabetes: minggu ke-5 dan ke-10 setelah induksi streptozotocin–nikotinamida.

Temuan utama penelitian:

  • Pada tahap awal (minggu ke-5), model diabetes menunjukkan respon inflamasi aktif tanpa tanda pengecilan limpa yang bermakna; terjadi peningkatan limfosit dan migrasi limfosit yang mencerminkan aktivasi respon imun adaptif.

  • Pada tahap lanjut (minggu ke-10), terjadi pengecilan limpa signifikan – terutama pada volume pulpa alba – yang proporsional dengan berat badan, menggambarkan dampak sistemik diabetes kronis. Volume yang lebih kecil terutama pada jaringan limfoid pulpa alba mengisyaratkan adanya kelelahan sistem imun adaptif yang tidak lagi responsif terhadap kerusakan jaringan.

Komentar dari Teresa Lucretia (mahasiswa S3):

“Kami sangat bersyukur penelitian ini dapat dipublikasikan. Dengan menelusuri perubahan limpa pada fase awal dan lanjut diabetes, kami berharap hasil ini dapat mendorong perhatian lebih terhadap aspek imunologis dalam manajemen penyakit diabetes. Semoga ke depan dapat dikembangkan strategi pencegahan dan terapi yang lebih holistik, sehingga pada akhirnya dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien.”

Departemen Histologi dan Biologi Sel mengapresiasi dedikasi seluruh tim peneliti dan berharap kolaborasi riset dengan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung terus berlanjut dalam penguatan ilmu biologi sel dan imunologi.

Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Penelitian ini selaras dengan upaya pencapaian SDG 3 — Good Health and Well-being, khususnya dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan mengenai penyakit kronis metabolik seperti diabetes. Selain itu, penelitian ini juga berkontribusi pada SDG 17 — Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antar lembaga penelitian dan pemanfaatan jejaring kerja sama untuk memperkuat kapasitas riset dan dampak kebermanfaatan hasil penelitian.

#SDG #SDG3 #GoodHealthAndWellbeing #KesehatanYangBaikDanKesejahteraan #SDG17 #PartnershipsForTheGoals #KemitraanUntukMencapaiTujuan

Satrio Adi Wicaksono, seorang staf dosen muda dari Departemen Histologi dan Biologi Sel FKKMK UGM, yang saat ini menempuh studi doktoral di Kobe University, Jepang, berhasil menerbitkan artikel penelitian inovatif di jurnal internasional Communications Biology. Penelitian ini menyoroti peran aktif senesensi endotheliocytus (endothelial cells; EC) sebagai regulator awal penuaan kulit melalui mekanisme neuroimun yang sebelumnya belum dipahami.

Penuaan biasanya disertai dengan disfungsi vaskular progresif, tetapi dampaknya pada penuaan kulit masih kurang dipahami. Penelitian ini menunjukkan bahwa endotheliocytus yang mengalami senesensi berkontribusi pada penuaan kulit intrinsik melalui aktivasi mastocytus (mast cells) yang dipicu oleh peptida neurokalkitonin (CGRP), terlepas dari jalur IgE tradisional. Temuan ini membuka jalan untuk pengembangan strategi terapeutik baru yang menargetkan senesensi vaskular dan interaksi neuroimun untuk memperlambat penuaan kulit.

Meskipun senesensi EC diketahui terlibat dalam berbagai penyakit terkait usia, perannya pada penuaan dermal belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana EC senescent mempengaruhi kulit melalui jalur neuroimun, menggunakan model tikus dengan senesensi EC spesifik.

Peneliti menggunakan model tikus yang endotheliocytus-nya mengalami senesensi secara spesifik. Analisis dilakukan terhadap aktivasi mastocytus, sekresi faktor pro-inflamasi senescence-associated secretory phenotype (SASP), dan produksi CGRP oleh axon yang ada di dermis. Intervensi farmakologis dilakukan untuk menstabilkan mastocytus atau menghambat jalur EC-SASP-CGRP, untuk menilai efeknya terhadap penuaan kulit.

Hasil Utama

  • endotheliocytus yang mengalami senesensi menghasilkan SASP pro-inflamasi, yang mengaktifkan neuron dermal untuk memproduksi CGRP.

  • CGRP kemudian memicu degranulasi mastocytus, menyebabkan fenotipe penuaan kulit seperti penipisan dermis, degradasi kolagen, dan penyembuhan luka yang tertunda.

  • Penghambatan jalur EC-SASP-CGRP atau stabilisasi mastocytus secara farmakologis secara signifikan mengurangi tanda-tanda penuaan kulit.

“Kami menemukan bahwa senesensi vaskular bukan hanya masalah pembuluh darah, tetapi juga memicu penuaan kulit melalui interaksi neuroimun yang kompleks,” ujar Satrio. “Hasil ini membuka kemungkinan pengembangan terapi baru untuk memperlambat penuaan kulit.”

Temuan ini menunjukkan bahwa senesensi vaskular adalah regulator awal penuaan kulit, dan jalur EC-SASP-CGRP bisa menjadi target terapeutik potensial. Penelitian lanjutan akan fokus pada pengembangan intervensi farmakologis dan studi kolaboratif internasional untuk aplikasi klinis.

Artikel lengkap tersedia di: Communications Biology

Departemen Histologi & Biologi Sel FKKMK UGM terus mendorong staf muda untuk terlibat dalam penelitian internasional berkualitas tinggi, mendukung pengembangan ilmu dan kolaborasi global. Publikasi ilmiah seperti penelitian ini juga berkontribusi langsung pada implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui inovasi kesehatan, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas akademik, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat pemajuan riset biomedis.

Dalam rangka meningkatkan kesehatan pegawai sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), tenaga kependidikan (tendik) Departemen Histologi dan Biologi Sel, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM merutinkan kegiatan bersepeda pada setiap Jumat Krida pukul 07.00 – 09.00. Aktivitas ini menjadi wujud komitmen departemen untuk mempromosikan gaya hidup aktif serta mendorong terciptanya lingkungan kampus yang sehat dan berkelanjutan.

Bersepeda merupakan aktivitas yang efektif dalam menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan kesehatan jantung, dan mengurangi risiko penyakit tidak menular. Melalui kegiatan Jumat Krida, tendik Departemen Histologi dan Biologi Sel diajak untuk sejenak mengambil jeda dari rutinitas pekerjaan guna melakukan aktivitas fisik yang teratur.

Selain meningkatkan kesehatan pegawai, bersepeda juga mendukung upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih bersih dan rendah emisi. Pemilihan sepeda dibandingkan kendaraan bermotor, menunjukkan tendik berkontribusi pada pengurangan polusi udara dan kebisingan di area UGM. Penggunaan sepeda secara rutin juga akan membantu menurunkan jejak karbon individu. Aktivitas ini juga memperkuat relasi sosial, karena menjadi ruang bagi pegawai untuk saling berinteraksi, mempererat kebersamaan, sekaligus membangun budaya kerja yang lebih harmonis, termasuk melalui kegiatan bersepeda bersama tendik Departemen Anatomi. Rute bersepeda yang melintasi kawasan kampus dan sekitarnya menjadi ruang bagi pegawai untuk beraktivitas dalam suasana yang menyenangkan dan produktif.

Sebagai institusi pendidikan yang mengedepankan nilai keberlanjutan, UGM terus mendorong unit-unit di dalamnya untuk mengimplementasikan SDGs secara nyata. Program rutin bersepeda oleh tendik Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK merupakan contoh konkret bagaimana aktivitas sederhana dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup. Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan pegawai lewat aktivitas fisik rutin; mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dengan berkontribusi pada terciptanya lingkungan kampus yang bersih, aman, dan nyaman; serta turut merealisasikan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya nyata pengurangan emisi karbon dengan memilih moda transportasi ramah lingkungan.

Dengan keberlanjutan kegiatan ini, diharapkan semakin banyak sivitas akademika UGM yang terinspirasi untuk menjadikan aktivitas fisik dan gaya hidup ramah lingkungan sebagai bagian dari keseharian. Upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa manfaat besar bagi individu, institusi, dan bumi yang kita tinggali.

Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan rekreasi pada Rabu, 26 November 2025 dengan rangkaian kunjungan ke Nawang Jagad, Museum Ulen Sentalu, Museum Gunung Merapi, dan Jejamuran sebagai sarana untuk memperkuat hubungan dan kebersamaan antarstaf. Kegiatan rekreasi ini tidak hanya sebagai momen penyegaran dari rutinitas pekerjaan, tetapi juga ruang interaksi yang bermakna untuk saling mengenal dan memperat hubungan dengan seluruh staf.

Kunjungan ke Nawang Jagad memberikan suasana alam yang kondusif untuk membangun kedekatan antarstaf melalui aktivitas bersama. Interaksi yang terbangun antara dosen dan tenaga kependidikan dalam suasana rekreatif diharapkan dapat memperkuat terciptanya hubungan kerja yang lebih harmonis di lingkungan departemen. Di Museum Ulen Sentalu, kami mengikuti Tur Adiluhung Mataram untuk memperoleh pengalaman budaya melalui penelusuran jejak sejarah, seni, dan tradisi Mataram. Kami menjadi lebih mengenal koleksi lukisan, syair, foto, dan batik yang menceritakan sejarah serta budaya Mataram. Sementara itu, Museum Gunung Merapi juga menjadi salah satu destinasi kunjungan dalam rangkaian perjalanan sebagai sarana memperluas pengetahuan tentang daerah dan lingkungan sekitar.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Jejamuran, diawali dengan acara makan bersama yang hangat bagi seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berkeliling melihat secara langsung proses budidaya jamur, mulai dari persiapan media tanam hingga panen. Selanjutnya, diadakan kelas memasak yang memanfaatkan jamur sebagai bahan utama, memberikan kesempatan bagi kami untuk mempelajari cara mengolah jamur menjadi beragam hidangan yang lezat dan bergizi. Lomba memasak juga diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan, di mana staf dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyiapkan menu yang sama secara kreatif dan kolaboratif. Aktivitas ini tidak hanya menghadirkan suasana yang seru dan menyenangkan, tetapi juga menjadi ruang interaksi yang positif, sekaligus memperkuat kerja sama, komunikasi, dan kebersamaan antarstaf.

Seluruh rangkaian rekreasi ini tidak hanya menjadi wadah penyegaran dan penguatan kebersamaan internal, tetapi bersifat edukatif serta sebagai bentuk implementasi nilai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan sumber daya manusia, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran budaya dan sejarah sebagai bentuk pelestarian pengetahuan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui praktik edukatif mengenai budidaya dan pemanfaatan bahan pangan lokal secara berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi di lingkungan Departemen Histologi dan Biologi Sel serta mendukung terciptanya lingkungan kerja yang harmonis, produktif, dan berkelanjutan.

Kegiatan Workshop setengah hari bertopik Essentials in Oncology sebagai bagian dari Pertemuan Ilmiah POI telah diselenggarakan pada 7 November 2025 di Ruang Teater Perpustakaan FK-KMK UGM, berlangsung selama 3 jam. Kegiatan ini berfokus pada penguatan pemahaman biologi tumor dan perannya pada perkembangan terapi kanker.  Workshop ini dihadiri oleh 46 peserta, yang mayoritas merupakan praktisi klinis, baik dokter umum maupun dokter spesialis.

Sesi pertama disampaikan oleh Dra. Dewajani Purnomosari, M.Si., Ph.D., yang mengulas “Genomic Landscapes of Carcinogenesis” dan menjelaskan  sifat kanker yang dirangkum dalam konsep 12 Hallmark of cancer yang menjadi dasar pengembangan terapi kanker. Sesi kedua oleh Dewi Kartikawati Paramita, S.Si., M.Si., Ph.D. membahas “Tumor Microenvironment and Immune Escape”, menyoroti mekanisme interaksi tumor dengan lingkungan sekitarnya serta strategi menghindari sistem imun. Materi terakhir oleh Jajah Fachiroh, S.P., M.Si., Ph.D. mengenai “Development of Personalized Medicine for Cancer” menekankan pentingnya profil molekuler dalam menentukan terapi yang paling tepat bagi setiap pasien.

Secara umum, peserta menyampaikan bahwa materi biomedis yang disajikan sangat relevan dengan tantangan klinis yang mereka hadapi sehari-hari di rumah sakit. Berbagai permasalahan klinis—mulai dari variasi respons terapi, resistensi obat, hingga perbedaan karakter biologis antar pasien—dapat dijelaskan melalui pemahaman biologi tumor dan mekanisme molekuler yang lebih mendalam. Kegiatan ini menegaskan bahwa kolaborasi antara ilmu biomedis dan praktik klinis merupakan kunci untuk meningkatkan ketepatan diagnosis, efektivitas terapi, dan kualitas pelayanan kanker secara keseluruhan.

Kegiatan workshop ini juga memiliki keterkaitan kuat dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Hal ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan pembelajaran profesional berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan mutakhir untuk tenaga kesehatan, sehingga meningkatkan kapasitas dan kompetensi klinis dalam penanganan kanker. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi akademisi dan praktisi klinis dalam jejaring ilmiah POI, guna mendorong integrasi riset biomedis dan aplikasi klinis. Sinergi lintas disiplin ini diharapkan memperkuat inovasi dan implementasi terapi kanker yang lebih tepat sasaran, demi peningkatan kualitas layanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Tim peneliti dari Departemen Histologi dan Biologi Sel, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) kembali menerbitkan artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi Journal of Neuroimmune Pharmacology berjudul: “TNF-α Inhibition Modulates CX3CR1, Pyroptosis-related Genes, and BDNF to Alleviate Anxiety-like Behavior in Type 2 Diabetic Rats.” Publikasi tersebut dapat diakses melalui tautan berikut: https://rdcu.be/eKAjl

Penelitian ini mengkaji peran penghambatan TNF-α, salah satu sitokin proinflamasi utama, dalam mengatasi peradangan saraf dan gangguan perilaku akibat diabetes. Diabetes tidak hanya mengganggu metabolisme dan sistem vaskular, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya gangguan neurologis akibat peradangan kronis pada sistem saraf pusat. Salah satu dampak diabetes yang sering terabaikan adalah munculnya kecemasan, yang berkaitan dengan aktivasi sel glia serta ketidakseimbangan faktor neurotropik, seperti Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), di hippocampus. Studi ini menelusuri bagaimana penghambatan TNF-α dengan etanercept dapat memengaruhi ekspresi reseptor fractalkine (CX3CR1), gen-gen terkait pyroptosis, serta BDNF pada model tikus diabetes tipe 2 dengan induksi streptozotocin dan nicotinamide.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghambatan TNF-α dengan etanercept terbukti menurunkan ekspresi CX3CR1 serta juga gen-gen terkait pyroptosis, seperti Nlrp3, Il-1β, dan Il-18. Secara bersamaan, terjadi peningkatan signifikan ekspresi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) di hippocampus, yang mengindikasikan pemulihan aktivitas neurotropik dan fungsi neuron. Tikus diabetes yang mendapat perlakuan etanercept juga menunjukkan penurunan gejala kecemasan dibandingkan kelompok kontrol. Sementara ekspresi CX3CL1 (ligand fractalkine) tetap stabil, mengindikasikan bahwa efek modulasi utama terjadi melalui reseptor CX3CR1.

Dian Eurike Septyaningtrias, penulis pertama penelitian ini, menyampaikan bahwa hasil ini membuka arah baru dalam penelitian neuroinflamasi terkait diabetes:
“Selama ini kita telah mengenal TNF-α sebagai sitokin inflamasi. Di otak, sitokin ini juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan komunikasi antara neuron dan sel glia. Ketika TNF-α berlebih, terjadi pengaktifan mikroglia yang dapat memicu gangguan suasana hati seperti kecemasan. Dengan menekan aktivitas TNF-α, kami melihat pemulihan ekspresi BDNF dan perbaikan perilaku hewan uji.”

Sementara itu, Dr. Rina Susilowati, penulis korespondensi penelitian ini menambahkan:
“Temuan ini tidak hanya relevan bagi pengembangan terapi baru untuk komplikasi saraf akibat diabetes, tetapi juga memperkuat hubungan antara sistem imun dan fungsi otak. Kami berharap penelitian ini menjadi dasar bagi pendekatan translasi menuju terapi yang lebih komprehensif bagi penderita diabetes.”

Studi ini menegaskan TNF-α merupakan target potensial untuk menekan peradangan saraf dan gangguan perilaku pada diabetes, dan berkontribusi terhadap pengembangan terapi imunomodulator yang lebih aman bagi pasien diabetes. Penelitian ini mendukung capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (“Sustainable Development Goals”/SDGs), khususnya SDG 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera (“Good Health and Well-being”) dan SDG 17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (“Partnerships for the Goals”), melalui kolaborasi peneliti UGM dan UNS dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup pasien diabetes.

Rabu, 22 Oktober 2025 – Audit Mutu Internal (AMI) merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada untuk memastikan bahwa sistem manajemen mutu akademik dan laboratorium berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pada kesempatan ini, kegiatan AMI dilakukan dengan fokus pada Departemen Histologi dan Biologi Sel, salah satu unit penting yang berperan dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang ilmu biomedik. Kegiatan ini juga dikaitkan dengan implementasi prinsip biosafety di lingkungan laboratorium, yang merupakan aspek vital dalam mendukung keamanan dan keberlanjutan penelitian biomedis.

Tujuan kegiatan Audit Mutu Internal ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan sistem mutu di Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM, terutama dalam aspek tata kelola laboratorium, keselamatan kerja, dan penerapan prinsip biosafety. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi potensi perbaikan serta memastikan bahwa seluruh kegiatan akademik dan penelitian di departemen tersebut berjalan sesuai dengan standar nasional dan internasional.

Kegiatan Audit Mutu Internal dilaksanakan oleh tim auditor internal fakultas yang terdiri atas dosen dan tenaga kependidikan yang telah mendapatkan pelatihan audit mutu. Proses audit mencakup pemeriksaan dokumen, wawancara dengan dosen dan teknisi laboratorium, serta observasi langsung terhadap fasilitas laboratorium dan ruang kerja. Departemen Histologi dan Biologi Sel menunjukkan komitmen tinggi terhadap implementasi sistem mutu dengan adanya dokumentasi yang lengkap, pemeliharaan alat yang rutin, dan penerapan prosedur operasional standar (SOP) yang baik. Auditor juga memberikan beberapa rekomendasi terkait peningkatan efektivitas monitoring kegiatan penelitian serta penguatan sistem pelaporan insiden keselamatan laboratorium.

Departemen Histologi dan Biologi Sel memiliki peran penting dalam menjaga keamanan biologis (biosafety) di lingkungan laboratorium. Implementasi biosafety dilakukan melalui penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai  dan penerapan SOP terkait penanganan bahan biologis. Selain itu, dilakukan pula pelatihan rutin mengenai biosafety bagi mahasiswa, peneliti, dan staf laboratorium guna meningkatkan kesadaran terhadap risiko biologis. Laboratorium juga dilengkapi dengan sistem ventilasi yang baik, area kerja bersih, serta prosedur pengelolaan limbah biologis yang sesuai dengan regulasi lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa Departemen Histologi dan Biologi Sel telah menerapkan budaya keselamatan yang kuat sebagai bagian integral dari kegiatan akademik dan penelitian.

Secara keseluruhan, hasil Audit Mutu Internal di Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM menunjukkan bahwa sistem manajemen mutu telah diterapkan dengan baik dan konsisten. Penerapan biosafety di laboratorium telah memenuhi standar keamanan kerja, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal penambahan tanda biohazard pada area limbah laboratorium dan pada alat laboratorium yang berpotensi membahayakan bagi penggunanya dalam hal ini teknisi atau peneliti.

Kegiatan Audit Mutu Internal dan penerapan biosafety di Departemen Histologi dan Biologi Sel memiliki relevansi yang erat dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya, kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui penerapan sistem keamanan dan keselamatan kerja di lingkungan laboratorium yang mencegah risiko kesehatan. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi pada SDG 4 Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dengan memastikan bahwa kegiatan pembelajaran dan penelitian berjalan sesuai standar mutu pendidikan yang tinggi. Penerapan prinsip biosafety yang baik juga mendukung SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan limbah laboratorium yang bertanggung jawab.