Sebagai wujud komitmen dalam menyebarluaskan keilmuan dan keahlian di bidang histologi, Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM menyambut seorang teknisi laboratorium dari FK Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dalam program magang. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai 2 hingga 6 Februari 2026. 

Program magang ini dirancang untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan di bidang mikroteknik, yaitu teknik pembuatan sediaan histologi. Selama lima hari, instruktur dan fasilitator mendampingi peserta untuk mendalami setiap tahap dalam mikroteknik, seperti nekropsi tikus, pengambilan dan pengawetan jaringan, pembuatan sediaan histologi, dan pewarnaan sediaan histologi. Selain melakukan praktik langsung secara mandiri, peserta juga mendapatkan kuliah yang berisi teori-teori penting terkait mikroteknik.

Kegiatan yang berakhir pada 6 Februari 2026 ini ditutup dengan sesi diskusi dan evaluasi teknis. Pihak Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM berharap keterampilan yang telah dipelajari dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan performa layanan laboratorium di institusi asal, sekaligus membuka kesempatan kolaborasi penelitian di masa depan.

Langkah kolaboratif ini juga menjadi bukti nyata kontribusi Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM dalam mendukung pencapaian SDGs, terutama pada SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan kapasitas SDM, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama lintas institusi. (Kontributor: Saihas Suhda)

Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM kembali mengantarkan  seorang mahasiswa lulus ujian Disertasi S3 Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan melalui ujian disertasi yang diselenggarakan pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 12.30–15.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Ujian Prodi S3, Gedung Pascasarjana Tahir Sayap Utara Lantai 3, dan dipimpin oleh Prof. Marsetyawan.

Mahasiswa yang dinyatakan lulus adalah dr. Teresa Lucretia, dosen Departemen Histologi  Universitas Kristen Maranatha Bandung, yang berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Dampak Progresi Diabetes terhadap Lien Tikus: Kajian Stereologi, Histopatologi, Flow Cytometry dan Ekspresi Ligan Kemokin.”

Dalam penelitiannya, dr. Teresa mengkaji dampak diabetes melitus terhadap lien atau dalam bahasa awam disebut sebagai limpa,  organ penting dalam sistem kekebalan tubuh. Diabetes diketahui tidak hanya mempengaruhi kadar gula darah, tetapi juga dapat melemahkan daya tahan tubuh. Melalui penelitian ini, ditunjukkan bahwa perjalanan diabetes dapat menyebabkan perubahan bertahap pada struktur dan fungsi organ imun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase awal diabetes, limpa masih mempertahankan ukuran normal secara makroskopis, namun telah terjadi aktivasi imun adaptif, ditandai dengan peningkatan aktivitas pulpa alba, infiltrasi sel inflamasi, peningkatan jumlah limfosit T dan B, serta peningkatan ekspresi gen ligan kemokin CCL19. Temuan ini mengindikasikan bahwa pada tahap awal, limpa masih berperan aktif dalam merespons kondisi hiperglikemia dan stres oksidatif sistemik.

Sebaliknya, pada fase lanjut diabetes, ditemukan involusi struktural dan fungsional lien, ditandai dengan ukuran organ yang lebih kecil, penurunan volume pulpa alba dan zona marginalis, peningkatan fraksi jaringan ikat, serta tidak ditemukannya peningkatan jumlah limfosit T dan B. Kondisi ini mencerminkan terjadinya kelelahan imun (immune exhaustion) dan penurunan kapasitas respon imun adaptif pada diabetes kronis. Pola ekspresi ligan kemokin yang tidak seimbang pada fase lanjut juga mengindikasikan adanya gangguan regulasi migrasi sel imun.

Penelitian ini menggunakan berbagai pendekatan ilmiah, antara lain pemeriksaan jaringan secara mikroskopis dengan analisis kualitatif, semi kuantitatif dan stereologi, penghitungan sel imun dengan teknologi flow cytometry, serta analisis ekspresi gen menggunakan qRT-PCR. Kombinasi metode tersebut memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai perubahan organ imun akibat diabetes.

Selama studi doktoralnya, dr. Teresa Lucretia dibimbing oleh dr. Rina Susilowati, Ph.D. dan Dewi Kartikawati Paramita, S.Si., M.Si., Ph.D. Ujian disertasi ini juga melibatkan tim penguji yang terdiri dari para pakar di bidangnya yaitu dr. Arta Farmawati, Ph.D., Dr. dr. Umi S. Intansari, M.Kes., Sp.PK(K), dr. Vina Yanti Susanti, Sp.PD-KEMD, M.Sc., Ph.D., dr. Widya Wasityastuti, M.Sc., M.Med.Ed., Ph.D. dan dr. Hana Ratnawati, M.Kes., PA(K)

Dewan penguji memberikan apresiasi atas kedalaman analisis, integrasi pendekatan morfologis, imunologis, dan molekuler, serta kontribusi ilmiah penelitian ini dalam memahami dampak diabetes terhadap sistem imun.

Berdasarkan hasil sidang, dr. Teresa Lucretia dinyatakan lulus dan resmi menyandang gelar Doktor. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengendalian diabetes sejak dini, tidak hanya untuk mencegah komplikasi organ, tetapi juga untuk menjaga kekuatan sistem kekebalan tubuh.Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM mengucapkan selamat dan sukses kepada dr. Teresa Lucretia atas capaian akademik yang diraih, serta berharap hasil penelitiannya dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan menjadi pijakan awal penelitian selanjutnya. Selamat mempersiapkan wisuda di bulan April 2026.

Penelitian serta capaian akademik dr. Teresa Lucretia secara strategis mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui fokus pada pengendalian diabetes dan penguatan sistem imun, kontribusinya selaras dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pencapaian ini juga mencerminkan implementasi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui dedikasi pada pendidikan doktoral dan standarisasi riset ilmiah yang bermutu. Dalam aspek teknis, pemanfaatan inovasi serta teknologi riset biomedik yang ia terapkan sejalan dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Selain itu, kolaborasi lintas institusi dan multidisiplin yang dilakukan menjadi langkah nyata dalam pemenuhan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) guna mendorong kemajuan ilmu pengetahuan secara kolektif. (Kontributor: Rina Susilowati)

Kamera mikroskop merupakan perangkat tambahan yang dipasang pada lensa okuler mikroskop cahaya untuk menangkap gambar atau video dari sediaan histologi yang diamati. Hasil tangkapan kemudian diproses dengan perangkat lunak dan dapat langsung ditampilkan pada layar komputer atau monitor besar. Perangkat ini memudahkan dokumentasi gambar dari sediaan histologi yang diamati.

Laboratorium Histologi di Departemen Histologi dan Biologi Sel telah memiliki tiga kamera mikroskop yang masing-masing terpasang di tiga mikroskop yang berbeda. Ketiganya aktif digunakan baik oleh dosen maupun mahasiswa untuk mendukung pendidikan dan penelitian. Di bidang pendidikan, kamera mikroskop tersebut digunakan untuk mendokumentasikan gambar sediaan histologi yang digunakan sebagai sumber pembelajaran praktikum mahasiswa S1 Kedokteran FK-KMK UGM di tahun pertama. Kamera mikroskop tersebut juga digunakan oleh mahasiswa S2 Magister Ilmu Biomedik (MIB) FK-KMK UGM untuk pengamatan dan sekaligus diskusi sediaan histologi secara langsung pada saat praktikum mata kuliah mikroteknik.

Selain itu, kamera mikroskop di Laboratorium Histologi juga mendukung penelitian untuk tugas akhir mahasiswa. Seorang mahasiswi Program Studi Doktor angkatan tahun 2022 di FK-KMK, Lutfi Nurdian Asnindari, menyatakan rela mengantre untuk menggunakan kamera mikroskop di Laboratorium Histologi karena kualitas gambar yang dihasilkan sesuai dan memadai untuk dilakukan analisis lanjutan. Dua mahasiswi lain dari Magister Ilmu Biomedik FK-KMK angkatan 2024 minat Histologi dan Biologi Sel, yaitu Destiatpin Sofyaningrum dan Merry Nikita Br Nainggolan, mengandalkan kamera mikroskop di Laboratorium Histologi untuk pengumpulan data dengan jumlah yang relatif banyak untuk dilakukan analisis dengan pendekatan stereologi. 

Kemudahan pengoperasian dengan hasil gambar yang memuaskan menjadikan kamera mikroskop di Laboratorium Histologi sebagai fasilitas krusial dalam pelaksanaan pendidikan dan penelitian yang berkualitas. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan Nomor 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan sarana belajar yang mumpuni, serta Tujuan Nomor 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penguatan riset ilmiah dan pemutakhiran teknologi laboratorium. Ke depannya, pembaruan teknologi kamera mikroskop serta perangkat lunak secara berkala menjadi langkah penting untuk terus meningkatkan kualitas visualisasi dan akurasi data. (Kontributor: Saihas Suhda)

Departemen Histologi dan Biologi Sel sukses menyelenggarakan “Rapat Kerja Awal Tahun 2026” pada 26 Januari 2026. Pertemuan strategis ini dihadiri oleh seluruh elemen departemen, mulai dari jajaran staf dosen hingga tenaga kependidikan.

Acara diawali dengan laporan dr. Rina Susilowati, Ph.D., yang memaparkan capaian tahun lalu. Terungkap bahwa seluruh target kinerja departemen tahun 2025 terpenuhi 100%. Prestasi ini merupakan buah dari dedikasi kolektif seluruh staf Departemen Histologi dan Biologi Sel.

Ketua Departemen periode 2026-2031, Dra. Dewajani Purnomosari, M.Si., Ph.D., kemudian memaparkan proyeksi target satu tahun ke depan. Beliau menekankan bahwa pencapaian target bukan sekadar pemenuhan indikator administratif, melainkan tanggung jawab moral untuk memajukan institusi. Beliau mengajak seluruh staf untuk berinovasi melampaui batas target formal demi kontribusi nyata pada ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Melalui sinergi ini, departemen menegaskan komitmen mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Rapat kerja ini merupakan kegiatan yang sejalan dengan prinsip SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penjaminan mutu akademik, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kolaborasi internal demi ekosistem kerja yang inklusif.

Pertemuan ditutup dengan penuh kehangatan melalui sebuah pantun:

Pagi hari sarapan roti, Kopi hangat teman bekerja. Awal tahun satukan hati, Kerja sama kunci sukses bersama.

(Kontributor: Nur Aziz)

Mengawali langkah di tahun 2026, Departemen Histologi dan Biologi Sel kembali menggelar kegiatan kerja bakti pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang konsisten dilaksanakan setiap awal dan pertengahan tahun untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana departemen.

Sejak pagi hari, suasana gotong royong tampak kental saat seluruh elemen departemen, baik staf dosen maupun tenaga kependidikan, bahu-membahu membersihkan dan menata ulang fasilitas. Kegiatan kerja bakti meliputi pembersihan dan penataan area ruang pengajaran serta area laboratorium guna menyambut semester baru.

Selain untuk menjaga kualitas fasilitas, momen ini menjadi sarana mempererat kekompakan antarstaf di luar rutinitas akademik. Semangat kebersamaan tersebut semakin terasa saat seluruh peserta menutup kegiatan dengan acara makan siang bersama yang penuh kehangatan.

Kegiatan kerja bakti ini merupakan wujud nyata komitmen departemen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Aksi ini secara langsung mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menciptakan lingkungan kerja yang higienis dan nyaman. Selain itu, kolaborasi ini selaras dengan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), di mana sinergi antara dosen dan tenaga kependidikan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kualitas layanan institusi. (Kontributor: Nur Aziz)

Departemen Histologi dan Biologi Sel kembali menorehkan prestasi akademik melalui publikasi artikel ilmiah berjudul “Stereological analysis of spleen alterations in streptozotocin–nicotinamide-induced diabetic rats”, yang terbit online ahead of print pada 8 Desember 2025 di jurnal internasional bereputasi Biotechnique & Histochemistry (https://doi.org/10.1080/10520295.2025.2587290)

Publikasi ini merupakan hasil kolaborasi penelitian dengan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, sekaligus menjadi bagian dari disertasi mahasiswa S3 Teresa Lucretia, dengan pembimbing Rina Susilowati dan Dewi Kartikawati Paramita.

Penelitian ini memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana progresi diabetes mempengaruhi struktur dan fungsi limpa — organ kunci dalam sistem imun. Dengan pendekatan stereologi berbasis desain dan flowcytometry, tim menilai perubahan histopatologi limpa pada dua fase perkembangan diabetes: minggu ke-5 dan ke-10 setelah induksi streptozotocin–nikotinamida.

Temuan utama penelitian:

  • Pada tahap awal (minggu ke-5), model diabetes menunjukkan respon inflamasi aktif tanpa tanda pengecilan limpa yang bermakna; terjadi peningkatan limfosit dan migrasi limfosit yang mencerminkan aktivasi respon imun adaptif.

  • Pada tahap lanjut (minggu ke-10), terjadi pengecilan limpa signifikan – terutama pada volume pulpa alba – yang proporsional dengan berat badan, menggambarkan dampak sistemik diabetes kronis. Volume yang lebih kecil terutama pada jaringan limfoid pulpa alba mengisyaratkan adanya kelelahan sistem imun adaptif yang tidak lagi responsif terhadap kerusakan jaringan.

Komentar dari Teresa Lucretia (mahasiswa S3):

“Kami sangat bersyukur penelitian ini dapat dipublikasikan. Dengan menelusuri perubahan limpa pada fase awal dan lanjut diabetes, kami berharap hasil ini dapat mendorong perhatian lebih terhadap aspek imunologis dalam manajemen penyakit diabetes. Semoga ke depan dapat dikembangkan strategi pencegahan dan terapi yang lebih holistik, sehingga pada akhirnya dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien.”

Departemen Histologi dan Biologi Sel mengapresiasi dedikasi seluruh tim peneliti dan berharap kolaborasi riset dengan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung terus berlanjut dalam penguatan ilmu biologi sel dan imunologi.

Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Penelitian ini selaras dengan upaya pencapaian SDG 3 — Good Health and Well-being, khususnya dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan mengenai penyakit kronis metabolik seperti diabetes. Selain itu, penelitian ini juga berkontribusi pada SDG 17 — Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antar lembaga penelitian dan pemanfaatan jejaring kerja sama untuk memperkuat kapasitas riset dan dampak kebermanfaatan hasil penelitian.

#SDG #SDG3 #GoodHealthAndWellbeing #KesehatanYangBaikDanKesejahteraan #SDG17 #PartnershipsForTheGoals #KemitraanUntukMencapaiTujuan

Satrio Adi Wicaksono, seorang staf dosen muda dari Departemen Histologi dan Biologi Sel FKKMK UGM, yang saat ini menempuh studi doktoral di Kobe University, Jepang, berhasil menerbitkan artikel penelitian inovatif di jurnal internasional Communications Biology. Penelitian ini menyoroti peran aktif senesensi endotheliocytus (endothelial cells; EC) sebagai regulator awal penuaan kulit melalui mekanisme neuroimun yang sebelumnya belum dipahami.

Penuaan biasanya disertai dengan disfungsi vaskular progresif, tetapi dampaknya pada penuaan kulit masih kurang dipahami. Penelitian ini menunjukkan bahwa endotheliocytus yang mengalami senesensi berkontribusi pada penuaan kulit intrinsik melalui aktivasi mastocytus (mast cells) yang dipicu oleh peptida neurokalkitonin (CGRP), terlepas dari jalur IgE tradisional. Temuan ini membuka jalan untuk pengembangan strategi terapeutik baru yang menargetkan senesensi vaskular dan interaksi neuroimun untuk memperlambat penuaan kulit.

Meskipun senesensi EC diketahui terlibat dalam berbagai penyakit terkait usia, perannya pada penuaan dermal belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana EC senescent mempengaruhi kulit melalui jalur neuroimun, menggunakan model tikus dengan senesensi EC spesifik.

Peneliti menggunakan model tikus yang endotheliocytus-nya mengalami senesensi secara spesifik. Analisis dilakukan terhadap aktivasi mastocytus, sekresi faktor pro-inflamasi senescence-associated secretory phenotype (SASP), dan produksi CGRP oleh axon yang ada di dermis. Intervensi farmakologis dilakukan untuk menstabilkan mastocytus atau menghambat jalur EC-SASP-CGRP, untuk menilai efeknya terhadap penuaan kulit.

Hasil Utama

  • endotheliocytus yang mengalami senesensi menghasilkan SASP pro-inflamasi, yang mengaktifkan neuron dermal untuk memproduksi CGRP.

  • CGRP kemudian memicu degranulasi mastocytus, menyebabkan fenotipe penuaan kulit seperti penipisan dermis, degradasi kolagen, dan penyembuhan luka yang tertunda.

  • Penghambatan jalur EC-SASP-CGRP atau stabilisasi mastocytus secara farmakologis secara signifikan mengurangi tanda-tanda penuaan kulit.

“Kami menemukan bahwa senesensi vaskular bukan hanya masalah pembuluh darah, tetapi juga memicu penuaan kulit melalui interaksi neuroimun yang kompleks,” ujar Satrio. “Hasil ini membuka kemungkinan pengembangan terapi baru untuk memperlambat penuaan kulit.”

Temuan ini menunjukkan bahwa senesensi vaskular adalah regulator awal penuaan kulit, dan jalur EC-SASP-CGRP bisa menjadi target terapeutik potensial. Penelitian lanjutan akan fokus pada pengembangan intervensi farmakologis dan studi kolaboratif internasional untuk aplikasi klinis.

Artikel lengkap tersedia di: Communications Biology

Departemen Histologi & Biologi Sel FKKMK UGM terus mendorong staf muda untuk terlibat dalam penelitian internasional berkualitas tinggi, mendukung pengembangan ilmu dan kolaborasi global. Publikasi ilmiah seperti penelitian ini juga berkontribusi langsung pada implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui inovasi kesehatan, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas akademik, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat pemajuan riset biomedis.

Dalam rangka meningkatkan kesehatan pegawai sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), tenaga kependidikan (tendik) Departemen Histologi dan Biologi Sel, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM merutinkan kegiatan bersepeda pada setiap Jumat Krida pukul 07.00 – 09.00. Aktivitas ini menjadi wujud komitmen departemen untuk mempromosikan gaya hidup aktif serta mendorong terciptanya lingkungan kampus yang sehat dan berkelanjutan.

Bersepeda merupakan aktivitas yang efektif dalam menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan kesehatan jantung, dan mengurangi risiko penyakit tidak menular. Melalui kegiatan Jumat Krida, tendik Departemen Histologi dan Biologi Sel diajak untuk sejenak mengambil jeda dari rutinitas pekerjaan guna melakukan aktivitas fisik yang teratur.

Selain meningkatkan kesehatan pegawai, bersepeda juga mendukung upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih bersih dan rendah emisi. Pemilihan sepeda dibandingkan kendaraan bermotor, menunjukkan tendik berkontribusi pada pengurangan polusi udara dan kebisingan di area UGM. Penggunaan sepeda secara rutin juga akan membantu menurunkan jejak karbon individu. Aktivitas ini juga memperkuat relasi sosial, karena menjadi ruang bagi pegawai untuk saling berinteraksi, mempererat kebersamaan, sekaligus membangun budaya kerja yang lebih harmonis, termasuk melalui kegiatan bersepeda bersama tendik Departemen Anatomi. Rute bersepeda yang melintasi kawasan kampus dan sekitarnya menjadi ruang bagi pegawai untuk beraktivitas dalam suasana yang menyenangkan dan produktif.

Sebagai institusi pendidikan yang mengedepankan nilai keberlanjutan, UGM terus mendorong unit-unit di dalamnya untuk mengimplementasikan SDGs secara nyata. Program rutin bersepeda oleh tendik Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK merupakan contoh konkret bagaimana aktivitas sederhana dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup. Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan pegawai lewat aktivitas fisik rutin; mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dengan berkontribusi pada terciptanya lingkungan kampus yang bersih, aman, dan nyaman; serta turut merealisasikan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya nyata pengurangan emisi karbon dengan memilih moda transportasi ramah lingkungan.

Dengan keberlanjutan kegiatan ini, diharapkan semakin banyak sivitas akademika UGM yang terinspirasi untuk menjadikan aktivitas fisik dan gaya hidup ramah lingkungan sebagai bagian dari keseharian. Upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa manfaat besar bagi individu, institusi, dan bumi yang kita tinggali.

Departemen Histologi dan Biologi Sel FK-KMK UGM menyelenggarakan kegiatan rekreasi pada Rabu, 26 November 2025 dengan rangkaian kunjungan ke Nawang Jagad, Museum Ulen Sentalu, Museum Gunung Merapi, dan Jejamuran sebagai sarana untuk memperkuat hubungan dan kebersamaan antarstaf. Kegiatan rekreasi ini tidak hanya sebagai momen penyegaran dari rutinitas pekerjaan, tetapi juga ruang interaksi yang bermakna untuk saling mengenal dan memperat hubungan dengan seluruh staf.

Kunjungan ke Nawang Jagad memberikan suasana alam yang kondusif untuk membangun kedekatan antarstaf melalui aktivitas bersama. Interaksi yang terbangun antara dosen dan tenaga kependidikan dalam suasana rekreatif diharapkan dapat memperkuat terciptanya hubungan kerja yang lebih harmonis di lingkungan departemen. Di Museum Ulen Sentalu, kami mengikuti Tur Adiluhung Mataram untuk memperoleh pengalaman budaya melalui penelusuran jejak sejarah, seni, dan tradisi Mataram. Kami menjadi lebih mengenal koleksi lukisan, syair, foto, dan batik yang menceritakan sejarah serta budaya Mataram. Sementara itu, Museum Gunung Merapi juga menjadi salah satu destinasi kunjungan dalam rangkaian perjalanan sebagai sarana memperluas pengetahuan tentang daerah dan lingkungan sekitar.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Jejamuran, diawali dengan acara makan bersama yang hangat bagi seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berkeliling melihat secara langsung proses budidaya jamur, mulai dari persiapan media tanam hingga panen. Selanjutnya, diadakan kelas memasak yang memanfaatkan jamur sebagai bahan utama, memberikan kesempatan bagi kami untuk mempelajari cara mengolah jamur menjadi beragam hidangan yang lezat dan bergizi. Lomba memasak juga diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan, di mana staf dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyiapkan menu yang sama secara kreatif dan kolaboratif. Aktivitas ini tidak hanya menghadirkan suasana yang seru dan menyenangkan, tetapi juga menjadi ruang interaksi yang positif, sekaligus memperkuat kerja sama, komunikasi, dan kebersamaan antarstaf.

Seluruh rangkaian rekreasi ini tidak hanya menjadi wadah penyegaran dan penguatan kebersamaan internal, tetapi bersifat edukatif serta sebagai bentuk implementasi nilai Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan kesejahteraan sumber daya manusia, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran budaya dan sejarah sebagai bentuk pelestarian pengetahuan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui praktik edukatif mengenai budidaya dan pemanfaatan bahan pangan lokal secara berkelanjutan.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi di lingkungan Departemen Histologi dan Biologi Sel serta mendukung terciptanya lingkungan kerja yang harmonis, produktif, dan berkelanjutan.

Kegiatan Workshop setengah hari bertopik Essentials in Oncology sebagai bagian dari Pertemuan Ilmiah POI telah diselenggarakan pada 7 November 2025 di Ruang Teater Perpustakaan FK-KMK UGM, berlangsung selama 3 jam. Kegiatan ini berfokus pada penguatan pemahaman biologi tumor dan perannya pada perkembangan terapi kanker.  Workshop ini dihadiri oleh 46 peserta, yang mayoritas merupakan praktisi klinis, baik dokter umum maupun dokter spesialis.

Sesi pertama disampaikan oleh Dra. Dewajani Purnomosari, M.Si., Ph.D., yang mengulas “Genomic Landscapes of Carcinogenesis” dan menjelaskan  sifat kanker yang dirangkum dalam konsep 12 Hallmark of cancer yang menjadi dasar pengembangan terapi kanker. Sesi kedua oleh Dewi Kartikawati Paramita, S.Si., M.Si., Ph.D. membahas “Tumor Microenvironment and Immune Escape”, menyoroti mekanisme interaksi tumor dengan lingkungan sekitarnya serta strategi menghindari sistem imun. Materi terakhir oleh Jajah Fachiroh, S.P., M.Si., Ph.D. mengenai “Development of Personalized Medicine for Cancer” menekankan pentingnya profil molekuler dalam menentukan terapi yang paling tepat bagi setiap pasien.

Secara umum, peserta menyampaikan bahwa materi biomedis yang disajikan sangat relevan dengan tantangan klinis yang mereka hadapi sehari-hari di rumah sakit. Berbagai permasalahan klinis—mulai dari variasi respons terapi, resistensi obat, hingga perbedaan karakter biologis antar pasien—dapat dijelaskan melalui pemahaman biologi tumor dan mekanisme molekuler yang lebih mendalam. Kegiatan ini menegaskan bahwa kolaborasi antara ilmu biomedis dan praktik klinis merupakan kunci untuk meningkatkan ketepatan diagnosis, efektivitas terapi, dan kualitas pelayanan kanker secara keseluruhan.

Kegiatan workshop ini juga memiliki keterkaitan kuat dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Hal ini sejalan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan pembelajaran profesional berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan mutakhir untuk tenaga kesehatan, sehingga meningkatkan kapasitas dan kompetensi klinis dalam penanganan kanker. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi akademisi dan praktisi klinis dalam jejaring ilmiah POI, guna mendorong integrasi riset biomedis dan aplikasi klinis. Sinergi lintas disiplin ini diharapkan memperkuat inovasi dan implementasi terapi kanker yang lebih tepat sasaran, demi peningkatan kualitas layanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.