Pengambilan sampel acak sistematik menjadi pondasi penting dalam penelitian berbasis jaringan karena memastikan data yang dihasilkan akurat dan mewakili kondisi jaringan secara menyeluruh. Melalui pendekatan acak sistematis ini, setiap bagian jaringan memiliki peluang yang sama untuk dianalisis, sehingga risiko bias seleksi dapat ditekan. Hal ini sangat relevan dalam stereologi, khususnya pada penelitian hewan coba, karena menghasilkan estimasi yang lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan, baik untuk parameter jumlah, volume, maupun panjang dan luas dalam irisan jaringan.
Departemen Histologi dan Biologi Sel kembali menyelenggarakan Pelatihan Teknik Stereologi tahun 2026 yang kali ini menjadi bagian dari rangkaian kursus Analisis Kualitatif dan Kuantitatif pada sediaan histologi. Inovasi utama pada tahun ini terletak pada praktikum pengambilan sampel acak sistematik (systematic uniform random sampling) dan metode smooth fractionator yang diterapkan langsung pada organ hepar dan lien tikus. Berbeda dari tahun sebelumnya yang masih menggunakan media sederhana seperti kertas, praktikum kini dilakukan dengan sampel organ hewan coba, memberikan pengalaman yang lebih aplikatif dan mendekati kondisi penelitian sesungguhnya.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga terlibat langsung dalam proses sampling hingga analisis. Pendekatan ini membantu peserta melihat bagaimana teknik yang tepat dapat menghasilkan data morfometri yang lebih akurat, tidak bias, dan dapat direproduksi. Metode smooth fractionator turut melengkapi proses dengan memungkinkan estimasi kuantitatif secara efisien tanpa harus menghitung seluruh populasi sel.
Pelaksanaan praktikum dikemas secara interaktif melalui kombinasi ceramah, latihan berbasis kertas dan komputer dengan aplikasi ImageJ-FIJI, sehingga alur kerja dapat dipahami secara utuh. Kegiatan berlangsung tepat waktu dengan dukungan pembicara yang komunikatif dan fasilitatif, menciptakan suasana belajar yang aktif dan kondusif.
Menariknya, dalam sesi diskusi praktikum muncul refleksi kritis dari peserta. Salah satu peserta menyampaikan bahwa selama ini pengambilan sampel sering kali “tidak adil” karena cenderung memilih area tertentu saja. Hal ini kemudian ditimpali peserta lain yang mengakui bahwa praktik umum yang sering terjadi adalah memilih bagian jaringan yang tampak “paling baik”, sementara area yang kurang representatif justru diabaikan. Diskusi ini menjadi titik penting yang menegaskan perlunya pendekatan pengambilan sampel acak sistematik, agar seluruh bagian jaringan memiliki peluang yang sama untuk dianalisis. Dengan demikian, hasil penelitian tidak lagi bergantung pada subjektivitas peneliti, melainkan benar-benar mencerminkan kondisi jaringan secara utuh dan ilmiah.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa materi yang diberikan dinilai jelas, terstruktur, dan sangat membantu pemahaman peserta. Sesi praktik menjadi daya tarik utama karena membuat pembelajaran lebih menarik dan mudah dipahami. Instruktur juga dinilai responsif dalam mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung. Meski demikian, beberapa peserta mengusulkan penambahan waktu agar materi dapat dieksplorasi lebih mendalam.
Secara keseluruhan, pelatihan ini tidak hanya memperkuat kompetensi teknis peserta, tetapi juga mendukung pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyelenggaraan pembelajaran yang aplikatif, interaktif, dan berbasis ilmiah. (Kontributor: Rina Susilowati)










